Navigasi Mobile
motivasi
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 April 2014

Ingin Pulang

suzukijakarta1 - 07.25
Kisah seorang orang tua  yang ingin pulang ke Malang dari Jakarta, dia hanya seorang kuli, sudah sekitar 30 th dia belum pernah menginjakan kaki di kampung halamannya, mungkin bagi kita yang hal seperti itu cukup mudah tapi bagi dia, untuk sekedar makanpun sulit harus memilah dan memeilih .Dia ingat ketika dulu keluarganya menyuruhnya untuk sekolah dia tidak mau dan malah lebih memilih bekerja yang sudah pasti menghasilakan uang daripada mengelurkan uang, mungkin pemikiran dia saat itu seperti itu pemikiran sederhana dan menganggap pekerjan di Jakarta banyak dan mudah dikerjakan.Dia pergi ke Jakarta dengan optimis, tapi semua itu telah hilang sekitar 30 tahun lalu, pudar dimakan waktu dia menyesal seumur hidupnya, dengan modal sepedah tua dia bertekad untuk pulang ke Malang dengan bekal seadanya.Dia mulai menyiapkan segalanya mungkin ini cukup nekad tapi apa daya dia ingin sekali pulang melihat kampungnya .dia memulai perjalan pulang dengan berbekal sepedah tuanya ke Malang dengan penuh rasa waswasan  dalam hatinya dalam perjalan pulang dia terus mengayuh sepedahnya dan kadang kadang dia berhenti dan duduk beristirahat d pinggir jalan dia merenung memikirkan keegoisan nya dulu sewaktu ia di suruh sekolah mukin hidupnya tidak seperti sekarang ini, dia memulai lagi bersepedah mengayuh dan terus mengayuh menyusuri jalanan berdebu .Dikala hari mulai gelap dia berjalan terus menembus kegelapan malam dan akhiranya dia kelelahan dan berhenti di sebuah gubug pinggir jalan beristirahat, kemudian dia lihat ban sepedahnya pecah dia dorong cari tambalan setelah menemukan tambal ban .di tambalan tersebut ternyata tukang tambal tidak ada, hanya ada istri si tukang tambal saja lalau dia bertanya "Mba tambalan masih buka ? " dan si Mba menjawab "masih pak tapi suami saya lagi keluar, gimana gak ada yang nambal." lalau dia hanya mengusap dada dan merenung anadai saya punya kemempuan dan bisa menambal mukin saya akan tambal sendiri, dia semakaian kecewa pada dirinya sendiri yang tidak punya keahlian, dia bertanya pada dirinya sendiri kemana saja saya selama ini setua ini hal yang sederhana pun ta bisa saya lakaukan ... dia sadar begitu berharganya ilmu ,keahlian itu .

Jumat, 18 April 2014

Liz Murray Anak Jalanan Yang Kuliah di Hardvard

suzukijakarta1 - 21.01
Elizabeth 'Liz' Murray, lahir di Bronx,orang tuanya adalah pecandu berat obat obatan terlarang,sejak kecil Liz hidup dalam kemiskinan dan tinggal di perumahan kumuh, mainan yang ia miliki adalah mainan bekas dari tempat sampah didepan rumahnya, setiap hari Liz kecil dan ayahnya mencari barang-barang yang masih berguna dari tempat sampah,sisir,cermin,boneka,panci dan hampir semua barang dirumahnya berasal dari tempat sampah,saat kecil Liz dan kakanya sering menahan lapar dengan cara makan es batu (karena menurut Liz rasanya seperti makan) atau bahkan makan pasta gigi untuk menahan rasa lapar,saat ayahnya sudah tidak mampu lagi untuk membayar sewa flat temapt tinggal mereka Liz menjadi anak jalan,Liz menjadi tidak memiliki tujuan hidup mencari makanan dengan mencuri dari supermarket seperti anak anak jalanan lainnya, setiap hari Liz harus memikirkan damana ia harus tidur, terkadang Liz tidur di toliet rumah temannya dan pergi sebelum matahari terbit agar tidak ketahuan,pada awalnya Liz menganggap dirinya sebagai 'korban' akibat orangtuanya yang kecanduan obat obatan terlarang,tetapi setelah kematian ibunya,yang meninggal karena penyakit HIV,pandangan hidup Liz berubah ia bertekad untuk mengubah hidupnya,dan di saat usinya 17 tahun ia bertekad untuk masuk sekolah lagi dia berjanji terhadap dirinya sendiri ia akan mendapatkan nilai 'A' untuk semua mata pelajaran,Liz yang saat itu tinggal digerbong kereta bawah tanah,harus selalu membawa barangnya kemanapun ia pergi,pakaian dan buku yang sangat berat, ditambah lagi ia harus bekerja sebagai tikang cuci piring disebuah restoran untuk menyambung hidupnya,walaupun hidup Liz sangat berat, tapi semangatnya tidak pernah pudar,akhirnya janjinya terpenuhi ia mendapatkan nilai 'A' untuk semua pelajaran dan mendapatkan beasiswa ke Hardvard.Sekarang bukunya yang brrjudul Breaking Night: A Memoir of Forgiveness, Survival, and My Journey from Homeless to Harvard, telah tembus dalam daftar Newyork times best seller

Previous
Editor's Choice